Pandai Sebut Jam Kerja Fleksibel Airlangga, Bisa Ganggu PSBB

Pandai Sebut Jam Kerja Fleksibel Airlangga, Bisa Ganggu PSBB

Jakarta, CNN Indonesia —

Ahli Pandemi & Epidemiolog   dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman  menyebut permintaan agar diberlakukan jam kerja fleksibel saat PSBB   total di DKI  Jakarta bisa mengganggu efektivitas kebijakan untuk mengurangi penularan Covid-19 akibat infeksi virus corona.

Menurutnya, kebijakan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk menerapkan Pembatasan Zona Berskala Besar (PSBB) total harus didukung seluruh sektor dan semesta level pemerintahan.

Hal ini diungkap Dicky terkait permintaan  Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto agar Anies menerapkan tanda kerja fleksibel selama PSBB total pada pekan depan.



“Inti dari PSBB ini adalah membatasi mobilitas bani adam. Kalau di satu sisi pergeseran sudah diatur agar banyak di rumah, di satu sisi sedang dilonggarkan, ya tidak efektif. Berarti kita tidak mendukung perbaikan [angka kasus Covid-19]  di  ibu praja, ” ujar Dicky saat dihubungi CNNIndonesia. com, Jumat 911/9).

Dicky membaca mobilitas memegang peranan penting pada penularan Covid-19  karena mobilitas meningkatkan risiko orang tertular Covid-19.

Dicky menyarankan minimal dalam satu bulan kerja dari rumah (WFH) bagi para pekerja non esensial. Bagi para pekerja yang esensial yang diberi kelonggaran, disarankan agar dibuat strategi agar tidak banyak mobilitas.

“Dengan keputusan yang diambil ini bila tidak didukung dengan kebijakan pusat dan sektor lainnya tidak hendak optimal, ” kata Dicky.

Dicky mengingatkan agar Jakarta juga meningkatkan pengetatan di tapal batas. Sebab banyak pekerja DKI Jakarta yang berdomisili di sekitar daerah Depok, Bogor, Tangerang, Bekasi, hingga Banten.  

“Kemudian juga Jakarta perbaiki strategi keseluruhan terutama selama PSBB dan sesudah PSBB, ” kata Dicky.

Jebakan PSBB

Dicky mengingatkan pentingnya dukungan dari masyarakat dan pemerintah terhadap PSBB total agar ideal dan efektif menekan angka penularan Covid-19.

Pasalnya, Dicky mengatakan adanya potensi terjadi ‘jebakan PSBB’. Istilah ini digunakan buat mengartikan  PSBB yang berulang kala diterapkan karena tidak adanya pengetatan di perbatasan, tidak adanya sanksi ketat pelanggar protokol kesehatan, had masyarakat abai menerapkan protokol kesehatan tubuh.

PSBB jebakan serupa bisa terjadi apabila tidak didukung oleh lintas sektor dan pemerintahan pusat maupun daerah.

“Jebakan PSBB  di mana PSBB harus dilakukan berulang-ulang  karena kita abai dalam muslihat utama, kita abai di mencegah kasus impor, masyarakat abai melakukan protokol kesehatan, dan berbagai zona abai menerapkan protokol-protokol kesehatan, ” kata Dicky.  

PSBB total harus dipahami supaya efektif dan optimal menekan transmisi Covid-19. Dicky menyarankan agar kebijakan-kebijakan yang sifatnya non-kesehatan harus mundur.

“Kalau kita melalaikan tujuan utama pengendalian kesehatan. Kita akan berada dalam kondisi serupa ini terus menerus, bisa datang akhir tahun depan. Yang menderita kita semua, maka saat PSBB ini harus dukung, ” prawacana Dicky.

(jnp/eks)

[Gambas:Video CNN]