Menuntut: Orangtua Makin Stres saat Bani Kebanyakan Tonton TV

Menuntut: Orangtua Makin Stres saat Bani Kebanyakan Tonton TV

Jackpot hari ini Result SGP 2020 – 2021.

Jakarta, CNN Indonesia —

Beberapa orangtua mungkin percaya untuk meninggalkan  anak-anak mereka duduk nyaman dalam depan televisi dan menggunakan waktu ini untuk rehat sejenak.

Namun, sebuah studi  sebab University of Arizona mengatakan kalau hal ini mungkin menyebabkan lebih banyak keburukan daripada kebaikan, bahkan bagi orangtua.

Menurut penelitian tersebut, semakin banyak anak-anak menonton televisi dan terpapar propaganda tanpa henti, semakin banyak pokok dan ayah yang stres.


Matthew Lapierre dan Eunjoo Choi, peneliti menuntut tersebut, menemukan bahwa anak-anak ialah sasaran empuk untuk iklan TV karena mereka akan langsung meminta ke orangtua untuk membeli barang apa pun yang mereka anggap mengakui dalam iklan.

Sama dengan dilansir Asian Parent , temuan tersebut didasarkan dalam survei yang mereka lakukan kepada 433 orangtua dari anak-anak berusia dua hingga 12 tahun.

Lapierre memaparkan alasan mereka memilih rentang usia ini karena anak-anak yang lebih kecil lebih mudah terbujuk oleh iklan serta sering berbelanja dengan orangtua itu.

Hasil penelitian membuktikan bahwa ketika orangtua menolak mengambil barang untuk anak-anak mereka, jalan besar anak akan mengamuk datang mereka mendapatkan apa yang itu inginkan.

Para peneliti telah menemukan bahwa hal tersebut berpotensi memengaruhi tingkat stres orangtua.

Bagaimana iklan televisi memikat anak-anak untuk membeli?

Iklan yang ditujukan untuk anak-anak biasanya dibuat untuk membujuk anak agar membeli produknya dengan menggunakan warna-warna cerah, musik yang ceria, dan ciri yang mencolok.

Itu menarik bagi anak-anak dan itu tidak akan menebak-nebak maksudnya karena pada usia yang sangat bujang, mereka tidak akan dapat sepenuhnya memahami tujuan periklanan.

“Iklan untuk anak-anak dibuat untuk membuat mereka bersemangat. Mereka melayani banyak hal dalam iklan anak-anak untuk mendongkrak emosi sang bani, ” kata Lapierre.

“Anak-anak tidak memiliki sumber daya kognitif dan emosional untuk menarik diri, dan itulah mengapa tersebut menjadi masalah khusus bagi mereka. ”

Studi itu juga menyebutkan bahwa pengiklan sudah menemukan cara-cara kreatif baru buat menjual produknya di televisi.

Ini melibatkan taktik laksana penempatan produk dan ‘menggabungkan nama produk atau perusahaan ke pada narasi acara, ‘ seperti yang dikatakan dalam penelitian.

Cara mendiskusikan honorarium dengan anak-anak

Selain solusi jelas untuk membatasi zaman menonton TV, orangtua mungkin selalu dapat memulai percakapan tentang konsumerisme dengan anak-anak mereka.

Para peneliti menemukan tiga jenis komunikasi untuk menemukan mana yang terbaik untuk dibicarakan dengan bani Anda:

Hubungan Kolaboratif

Ini melibatkan berdiskusi dengan anak-anak Kamu tentang barang-barang yang Anda kulak dan meminta pendapat mereka atau memberi tahu mereka.

Cobalah dengan mengatakan, “Saya bakal mendengarkan saran darimu tentang produk atau merek tertentu. ”

Kontrol Komunikasi

Ini adalah zaman orang tua mengambil kendali lengkap atas apa yang harus ataupun tidak boleh mereka beli, atau anak-anak mereka.

Caranya bisa dengan mengatakan hal-hal semacam, ‘Jangan merengek saat saya menolak permintaanmu. ‘

Komunikasi Periklanan

Ini memberi orang tua lebih banyak kesempatan untuk berbicara dengan anak-anak mereka tentang iklan dengan mereka lihat.

Caranya yakni dengan mengatakan hal-hal seolah-olah, ‘Iklan akan mengatakan apa sekadar agar kamu membeli sesuatu. ‘

Temuan penelitian itu juga menunjukkan bahwa komunikasi kolaboratif adalah pendekatan terbaik yang sanggup digunakan orang tua untuk menekan tekanan pada masalah tersebut karena komunikasi kontrol dan periklanan cuma mendorong lebih banyak inisiasi pembelian dari anak-anak.

(agn)

[Gambas:Video CNN]