guru-besar-upi-kritik-jatah-teori-di-kampus-cuma-10-persen-1

Lehrkraft Besar UPI Kritik Jatah Teori di Kampus Cuma 10 Persen

Dapatkan promo member baru Pengeluaran SGP 2020 – 2021.

Jakarta, CNN Indonesia —

Guru tidak kecil sekaligus pakar pendidikan melalui Universitas Pendidikan Indonesia ( UPI ), Said Hamid Hasan mengatakan perubahan pembelajaran di dalam kelas tidak bisa hanya dengan menekan persentase dosen mengajar prinsip.

Menurutnya situasi tersebut tidak mungkin diokekan. Alasannya, kata dia, lantaran pada mata kuliah tertentu banyak membahas terkait aturan, maka mayoritas kegiatan di dalam kelas akan diisi oleh dosen mengajarkan teori.

“Jadi mengajar prinsip itu tidak bisa dipersentasekan seperti itu. Tergantung yang teori yang kita ajarkan, kompleksitas dari teori tersebut. Membatasi persenan begitu ngak boleh. Tapi mengatakan ngak hanya teori, tapi nyata contoh-contoh kasus, itu baru satu hal yang baugs, ” kata Hamid waktu dihubungi CNNIndonesia. com , Selasa (25/5).


Juga pula, menurut Hamid, gak semua dosen hanya terpaku pada teori ketika mengajar. Ketika menyampaikan pemahaman atas teori, dosen juga berusaha membangun diskusi dan praktik di dalam kelas.

Akan tetapi yang jadi masalah yaitu kurangnya kemampuan mahasiswa agar bernalar kritis dalam mencerna materi yang disampaikan. Sehingga kebanyakan mahasiswa hanya menerima bahan ajar tanpa pendalaman lebih lanjut.

“Mahasiswa kita tidak terlatih untuk bertanya, tidak terlatih untuk punya rasa penasaran. Kemampuan bertanya itu semestinya dilatih sejak SD, ” kata Hamid.

Ia mengakui sesungguhnya menarik kemampuan bernalar kritis tersebut menjadi tugas semua jenjang pendidikan, termasuk pendidikan gede. Artinya, bukan berarti dosen hanya diam menyikapi ulah mahasiswa yang tidak hidup.

Hamid memahami dosen juga perlu menarik terciptanya ruang diskusi di kelas. Namun diskusi tak bisa diharapkan mendominasi ruang kelas, khususnya pada school studi sarjana (S1) dimana umumnya diisi banyak mahasiswa dalam satu kelas.

Alih-alih menuntut dosen mengurangi porsi mengajar aturan, Hamid menilai seharusnya Kemendikbudristek mendorong perubahan pembelajaran guna meningkatkan kemampuan bernalar kritis di semua jenjang kemampuan.

“Jadi tersebut bukan satu gerakan kepada satu tempat atau satu level pendidikan saja. Semestinya kita mulai dari bawah. Tapi tidak berarti kami menunggu yang dari bawah naik ke pendidikan gede. Semua level harus bergerak sekarang, ” tambahnya.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Pendidikan Besar Kemendikbudristek Nizam mengatakan pihaknya ingin mewujudkan perubahan pembelajaran di dalam kelas di dalam perguruan tinggi.

Harapannya, ke depan dosen tidak akan banyak mengajar teori di kelas. Ia menjelaskan pembelajaran teori akan dilakukan di luar kelas dengan platform digital. Sementara kelas menjadi ruang diskusi antara dosen dan mahasiswa.

“Bukan jadi dosen di depan kelas berdiri, berikan kuliah, ini mungkin 10 persen. 85 persen ruang diskusi. Di dalam rumah waktunya belajar teorinya, yang belum jelas didiskusikan di kelas, ” tuturnya, Kamis (20/5).

(fey/ain)

[Gambas:Video CNN]