madrasah-transgender-pertama-di-pakistan-meretas-batas-sosial-2

Langgar Transgender Pertama di Pakistan Meretas Batas Sosial

Bonus harian di Keluaran HK 2020 – 2021. Jakarta, CNN Indonesia —

Cita-cita Rani Khan untuk membangun sebuah tempat yang bisa menampung komunitas sesama transgender dalam Pakistan akhirnya terealisasi pula. Dengan tabungannya, ia membuat sekolah Islam atau langgar khusus transgender.

Berbalut hijab putih, Ratu Khan mengajar murid-muridnya pelajaran Al Quran setiap hari di madrasahnya tersebut.

“Kebanyakan keluarga disini tidak menerima orang transgender. Mereka mengusir orang-orang (LGBT) dari rumah mereka. Kaum transgender menjadi perbuatan dengan salah di sini, ” kata perempuan 34 tarikh kepada Reuters .


Madrasah ini memang dianggap sebagai tonggak penting komunitas Lesbian, Gay, Biseksual, serta Transgender (LGBT) di Pakistan yang merupakan negara dengan mayoritas penduduk Muslim fundamental.

Di negara Asia Daksina itu, komunitas LGBT tetap menjadi target pengucilan walaupun tidak ada larangan formal bagi komunitas tersebut buat pergi ke madrasah ataupun beribadah di masjid.

“Saya juga salah satu dari mereka, ” kata Khan.

Sambil berupaya menahan cairan mata, Khan bercerita dirinya tidak lagi diakui oleh keluarga sejak ia berumur 13 tahun. Ia dipaksa untuk mengemis.

Pada usia 17 tarikh, Rani Khan bergabung secara kelompok transgender, menari pada pesta pernikahan dan urusan lainnya.

Dalam satu waktu, Khan didatangi seorang teman yang pula merupakan seorang transgender. Jodoh tersebut bercerita dan meminang kepada Khan untuk mengabulkan sesuatu bagi komunitas itu.

Sejak itu, Khan bermimpi membangun suatu madrasah bagi kaumLGBT. Sebelum membuka madrasah, ia melancarkan Alquran di rumah serta juga di salah utama madrasah.

Madrasah transgender. (Reuters/Stringer)

Khan akhirnya resmi membuka madrasah pertama untuk trasngender di Pakistan pada Oktober berantakan.

“Saya melatih Alquran untuk menyenangkan Tuhan, membangun hidup saya dalam sini dan di akhirat, ” kata Rani Khan.

Khan mengutarakan bahwa salah satu tumpuan besarnya adalah madrasahnya tersebut bisa menjadi tempat untuk kaum LGBT untuk beribadah, belajar tentang Islam, dan bertaubat dari tindakan kala lalu.

Salah satu siswa madrasah tersebut, Simran Khan, pun mengiakan sangat senang dengan kehadiran sekolah tersebut.

“Hati saya tenang masa membaca Alquran. Ini jauh lebih baik daripada hidup yang penuh hinaan, ” katanya.

Selain pendidikan agama Islam, Khan juga mengajari murid-muridnya untuk menjahit, menyulam, dan bervariasi keterampilan lain dengan tumpuan bisa mengumpulkan dana untuk operasional sekolah tersebut dengan menjual pakaian.

Madrasah transgender  di Pakistan. (Reuters/Stringer)

Menurut Khan, madrasahnya itu masih menyandarkan pendanaan sendiri, belum mendapat bantuan dari pemerintah.

Sejauh ini, kaum pejabat pemerintahan Perdana Menteri Imran Khan sudah berkomitmen akan membantu para pengikut madrasah tersebut agar bisa mendapat pekerjaan layak. Tetapi, janji itu belum terealisasi.

Parlemen Pakistan sendiri sudah mengakui macam kelamin ketiga pada 2018. Pemerintah memberikan hak-hak pokok kepada individu, seperti daya untuk memilih jenis kemaluan pada dokumen resmi.

Meski begitu, trah transgender tetap terkucilkan dalam Pakistan dan sering kali harus mengemis, menari, & melakukan pekerjaan dalam bagian prostitusi untuk mencari nafkah.

Sensus Pakistan pada 2017 mencatat ada sekitar 10 ribu trah transgender di negara tersebut. Namun, kelompok aktivis membuktikan jumlahnya saat ini bisa mencapai lebih dari 300 ribu di negara berpenduduk 220 juta tersebut.

(rds/has)

[Gambas:Video CNN]