asal-usul-ngabuburit-budaya-khas-ramadan-di-indonesia-1

Asal Usul Ngabuburit, Budaya Khas Bulan berkat di Indonesia

Dapatkan promo member baru Pengeluaran SGP 2020 – 2021. Jakarta, CNN Indonesia —

Jalan-jalan santai pada waktu sore, nongkrong pada tempat favorit sembari menikmati semilir angin bersama teman atau kerabat, atau giat menyusuri pasar kaget membongkar-bongkar menu berbuka puasa alias iftar menjadi gambaran  ngabuburit yang terjadi dalam berbagai penjuru Indonesia zaman Ramadan.

Namun tradisi itu agak sulit dilakukan dalam dua Ramadan terakhir akibat pandemi yang memaksa semua orang buat saling menjaga jarak dan menerapkan protokol kesehatan. Jadi bagi sebagian orang, kebiasaan ngabuburit menjadi sesuatu yang dirindukan.

Bertahun-tahun ‘menjalani’ tradisi ngabuburit, tak banyak yang menyadari sebetulnya kata “ngabuburit” sendiri bersumber dari bahasa Sunda. Kata pendahuluan “ngabuburit” diyakini berasal sebab ” ngalantung ngadagoan burit ” dengan berarti “bersantai sambil menunggu waktu sore”.


Kamus Sunda-Indonesia cetakan Kemendikbud pada 1985 mencatat kata “burit” yang bermakna “senja”, dan kata “ngabuburit” sebagai “jalan-jalan menunggu zaman sore, biasanya pada bulan puasa”.

Sirih dari bahasa daerah tersebut kemudian diserap menjadi kode Indonesia dan dicatat dengan resmi dalam Kamus Mulia Bahasa Indonesia (KBBI).

KBBI V (2016) mencatat kata “burit” sebagai kata dasar yang berpengaruh “sore”, kemudian turunannya yakni “mengabuburit” sebagai “menunggu azan magrib menjelang berbuka puasa pada waktu bulan Ramadan”.

Ilustrasi. Sejumlah warga menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di pelataran Stadion Pakansari, Bogor, Jawa Barat. (ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/ama/18. )

Biar telah diserap jadi etiket Indonesia dan dijalani jadi kebiasaan dalam budaya umum lokal ketika Ramadan tiba, nyatanya “ngabuburit” tidak mutlak lahir dari tanah Nusantara.

Guru Tumbuh Antropologi Budaya Universitas Gadjah Mada Heddy Shri Ahimsa-Putra mengatakan ngabuburit pada dasarnya respons umum dari umat muslim jelang buka puasa. Sehingga, ngabuburit tak hanya terjadi di Indonesia.

“Itu bisa kita lihat pada hampir seluruh masyarakat di mana kebanyakan orang Islam dan bulan puasa. Itu kan tujuannya untuk menunggu berbuka puasa kan. Jadi, kalau seperti itu bukan hanya Indonesia saja, ” kata Heddy kepada CNNIndonesia. com , beberapa periode lalu.

“Kalau kita menentang ke Arab, di Mesir juga ada karena mereka kan juga menyambut buka puasa. Itu di Makkah juga sangat terasa ngabuburitnya. Jadi menurut saya itu sangat umum, hanya selalu memang istilahnya di kian bukan ngabuburit, ” lanjutnya.

Dari Medan ke Islamisasi Kampus

Tak pernah ada catatan resmi kapan etiket masyarakat di waktu senja ini dilakukan, hanya saja ngabuburit diyakini sudah berlangsung semenjak puluhan tahun silam.

Sejumlah catatan mungil yang mendokumentasikan ngabuburit, dalam antaranya keterangan bahwa kelompok Bandung, Jawa Barat, telah terbiasa ngabuburit di medan Alun-alun Bandung sejak dekade 1950-an.

Hal itu tercatat pada uraian Tradisi Keagamaan Masyarakat Kota Bandung pada Bulan Ramadan Tahun 1990-2000 karya M Fajar, Sulasman, Usman Supendi dari Universitas Islam Daerah Sunan Gunung Djati Bandung yang terbit di buku harian Historia Madania Volume 2 Nomor 2 tahun 2018.

Warga Bandung masa awut-awutan ngabuburit dengan cara mengarahkan main ke taman atau lapang olahraga, berenang, serta menangkap ikan di Cikapundung, atau mandi di pemandian umum, sumur bor dekat Alun-alun , ” tulis mereka.

Sampai akhir tarikh 1950-an, orang masih bisa ngabuburit naik perahu di Situ Aksan atau Danau Bunjali. ” tulis ketiganya menyebut danau dalam Bandung yang hilang pada dekade 1980-an.

Ngabuburit jadi tren juga karena Islamisasi kampus, pada halaman berikutnya..

Islamisasi Kampus Dongkrak Ngabuburit

BACA KACA BERIKUTNYA